Sabtu, 13 Februari 2010

Orientasi Agribisnis

Pada umumnya usaha tani yang diselenggarakan oleh petani, masih mengedepankan produksi (budidaya) secara konvensional, ketimbang melihat kebutuhan pasar. Beberapa komoditas yang dihasilkan, setelah panen, ternyata kurang laku di pasaran atau paling tidak harganya anjlok tidak sesuai harapan petani. Hal ini disebabkan oleh karena jumlah komoditi yang diproduksi oleh para petani lebih banyak dari pada permintaan pasar atau over prosuksi. Maka permasalahan utama petani terkait dengan hal tersebut adalah komoditas yang tidak laku di pasaran. Padahal biaya produksi yang dikeluarkan utuk menghasilkan komoditi tersebut, tidak sedikit, sehingga usaha tani yang dijalankan menjadi “lebih besar pasak dari pada tiang” atau lebih besar pengeluaran dari pemasukan alias rugi.

Untuk mengatasi masalah itu, orientasi berfikir petani kita harus berubah ke orientasi agribisnis. Usaha tani harus dipandang sebagai sebuah sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang melingkupinya, diantaranya komponen input (masukan), produksi, pasca panen, pengolahan dan pemasaran, adalah faktor yang mutlak diperhatikan. Bukan hanya sekedar faktor produksi saja. Itulah yang dimaksud berfikir agribisnis adalah berfikir dari hulu sampai ke hilir, atau “satu siklus usaha tani

Namanya saja agribisnis, maka “pasar” adalah komponen pertama yang mutlak di perhatikan, sebelum melakukan proses produksi. Sejumlah pertanyaan-pertanyaan awal , yang mutlak dijawab terkait dengan pasar adalah komoditas apa yang paling laku (diminati) pasar ?, kemudian seberapa besarkah kebutuhan pasar terhadap komoditas itu ? Apakah kebutuhan pasar itu sudah terpenuhi ? atau berapa lagi kebutuhan pasar yang harus di suplai oleh petani ?

Untuk menjawab pertanyaan itu tentunya langkah yang perlu di lakukan adalah pemahaman sederhana mengenai kebutuhan pasar. Pertanyaan kita kemudian adalah, mampukah petani melakukan survay dan analisis permintaan pasar ? Kenyataan di atas menuntut adanya pemberdayaan petani, dari penyadaran akan pentingnya melihat pasar sebelum berproduksi, ke proses pembelajaran untuk bisa memahami keadaan pasar sebelum berusaha tani. Disinilah dibutuhkan intervensi pemerhati atau fasilitator pemberdayaan, adalah melakukan penguatan kapasitas petani agar bisa memahami pasar. Dan pasti bisa, karena yang mengetahui dengan pasti masalah petani adalah petani sendiri. Yang perlu dilakukan oleh fasilitator adalah membuka pintu atau jalan bagaimana para petani bisa mengoptimalkan potensinya sendiri. Jadi pembelajaran pertama petani dalam hal agribisnis adalah bagaimana petani faham dan mampu melakukan survay dan analisis pasar secara sederhana.

Selanjutnya, kemungkinan ada beberapa komoditas yang paling di minati pasar. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah komoditas yang mana yang paling di minati diantara yang di minati ? atau pertanyaan lainnya adalah komoditas yang mana yang paling menguntungkan bagi petani. Maka pembelajaran agribisnis kedua adalah bagaimana petani mampu melakukan hitung-hitungan (analisis usaha tani) terhadap setiap komoditi. Tentunya, setiap komoditas berbeda kebutuhan input (biaya produksinya) dan harga jualnya setelah di lempar ke pasaran.

Matematikanya sangat sederhana, harga jual dikurangi ongkos produksi itulah keuntungan bagi petani. Dari logika sederhana itu selayaknya petani dapat mengetahui komoditas mana yang paling menguntungkan baginya sekali gus diminati pasar, dan mampu diproduksi dengan skala usaha tertentu.

Pemberdayaan agribisnis petani tidak berhenti hanya pada proses pembelajaran (Belajar sambil berusaha) secara personal saja. BELAJAR menciptakan kemampuan. Namun untuk memenuhi tuntutan pasar dan mengembangkan skala usaha, petani juga membutuhkan kerjasama dgn petani lainnya. Mungkin ada permasalahan-permasalahan atau kendala agribisnis yang tidak mampu di selesaikan di tingkat keluarga tani, maka dibutuhkan penguatan kelembagaan petani sebagai wadah kerjasama dan interaksi agar dapat mengembangkan aksesnya dan dapat menyelesaikan permasalahannya secara kolektif. Selain itu kebutuhan untuk membangun norma yang lebih besar (baca: institusionalisasi), juga dalam rangka meningkatkan nilai tawar petani.

Pada kenyataannya petani yang telah mengembangkan kerjasama, norma, dan kelembagaannya dari kelompok tani di komunitasnya, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) pada skala desa, hingga asosiasi petani pada tingkat kabupaten, propinsi dan seterusnya, juga semakin mengalami perluasan akses dan transformasi Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan. Dengan catatan kelompok yang terbangun itu adalah kelompok SEJATI, bukan kelompok MERPATI dan PEDATI (kelompok yang muncul ketika ada proyek). Realitas juga menunjukkan bahwa asosiasi petani yang spesipik atau fokus pada komoditas yang diupayakan bersama, lebih mudah mengalami proses pengembangan agribisnis dibanding institusi atau lembaga yang dibentuk berdasarkan kesamaan wilayah semata, namun tidak focus pada produk atau komoditas.

Sewaktu Pak Prof.Amiruddin menjadi Gubernur Sulsel, dicanamkan Triprogram Sulawesi Selatan yang sebenarnya berorientasi agribisnis. Program itu adalah (1) Perubahan pola fikir, (2) Pengwilayahan komoditas dan (3) Petik-Olah-Jual.

Perubahan pola fikir, arahnya dari berfikir lata ke berfikir produktif, yang contohnya sudah dikemukakan di atas. Pengwilayahan komoditas adalah pengembangan potensi wilayah dengan komoditas yang sesuai dengan karakteristik atau potensi lokal, dan Petik-Olah-Jual, bermaksud memberikan nilai tambah terhadap produk yang di hasilkan petani, bahwa akan lebih menguntungkan bila produk diolah dan dikemas terlebih dahulu sebelum di lempar ke pasar. Selain itu dapat mengantisipasi kemungkinan kerusakan-kerusakan produk yang rentan kerusakan bila disimpan terlalu lama.

Jadi pembelajaran agribisnis berikutnya setelah faktor produksi yang pada umumnya petani sudah sangat paham, adalah mengenai pasca panen dan pengolahan. Petani membutuhkan kemampuan skill teknologi pasca panen dan pengolahan, misalnya saja bagaimana membuat saos tomat dan membuat kemasan agar produksi tersebut menjadi lebih memiliki efisiensi, efektifitas dan bernilai jual tinggi. Berapa banyak komoditas di pasar swalayan dan mall, yang kuantitas serta kualitasnya relativ sama dengan yang dijual oleh petani di pasar tradisional, namun lebih laris, meskipun harganya lebih mahal dari pada yang dijual langsung oleh petani, hanya persoalan kemasannya yang lebih menarik.

Dalam skala besar, pada umumnya ada syarat produksi pertanian dapat diterima oleh pasar, yakni kualitas (mutu), kuantitas (jumlah) dan Kontinuitas (keberlanjutan suplai). Pada umumnya pasar lebih mengutamakan komoditas inport apakah antar pulau atau negara, ketimbang komoditas lokal, dengan alasan komoditas impor tersebut lebih menjamin kuantitas, kualitas, kontinuitas dan harga dibanding komoditas lokal.

Terkait dengan hal tersebut, proses pemberdayaan yang diperlukan oleh petani adalah fasilitasi dan mediasi pertemuan antara petani dengan pihak ke tiga atau berbagai jejaring agar dapat melakukan interaksi dan transaksi pemasaran produk, agar terbuka wawasannya tentang criteria produk yang diminati serta dapat dikerjasamakan dengan pihak pasar. Kekuatan jejaring petani atau kemitraan petani adalah indicator bahwa petani itu telah memiliki keberdayaan.

Semoga FMA (Farmer Managed Extension Activities) atau Kegiatan Penyuluhan yang dikelola mandiri oleh petani dapat menjadi proses membangun minat dan kesadaran, proses pembelajaran, penguatan kelembagaan dan penguatan jejaring petani yang beorientasi agribisnis, dapat mengukir kisah sukses pemberdayaan agribisnis petani di Indonesia.

Sabtu, 09 Mei 2009

Electabilitas Koruptor

Berita tidak lolosnya sebahagian kecil incumbent legislatif di Pemilu 2009 ini, yang digantikan oleh energi dan harapan baru, tentu merupakan setitik harapan bagi kemajuan legislatif menuju legislatif yang lebih berperadaban. Pepatah melayu yang berbunyi “sekali lancung di ujian, seumur hidup tidak akan dipercaya” selayaknya dilembagakan dalam kehidupan masyarakat. Namun nampaknya, kampanye PARLEMEN BERSIH, belum begitu efektif dan kurang mempunyai pengaruh terhadap pilihan publik pada Pemilu 2009 ini. Citra “parlemen bersih” meski merupakan kebutuhan, ternyata tidak serta merta menjadi “human obsesion”. Ini bukan over generalisasi, tapi inilah hasil analisis sederhana saya terhadap fakta prilaku Pemilih dari hasil Pemilu 2009. Popularitas sebahagian figur incumbent legislatif yang terkait dengan skandal suap dan korupsi yang saat ini dalam proses hukum, atau di masyarakat telah memiliki citra “koruptor”. ternyata masih memiliki elektabilitas yang sangat tinggi. Mengapa ? karena pemilu kali ini belumlah pemilu yang merepresentasikan aspirasi yang berasal dari kesadaran kritis masyarakat. Realitas menunjukkan bahwa perolehan suara atau elektabilitas caleg itu pada umumnya masih merupakan hasil dari pola-pola mobilisasi dukungan yang tidak sehat, bahkan mengabaikan aspek moralitas. Berita tentang money politic, pembelian dan penggelembungan suara dan berbagai skandal lainnya yang sudah bukan rahasia umum adalah warna kelam terhadap masih lemahnya sistem pemilu kita dalam mengantisipasi beragai tindak kecurangan.

Pendidikan politik atau pendidikan demokrasi tidak dijalankan oleh partai politik. Partai politik masih lebih cenderung menjadi agent hegemoni kekuasaan yang hanya bisa berbicara tentang “demokrasi prosudural” sebagai alat bagi pengurus partai dan kroni is begundelnya untuk menyalurkan syahwat kekuasaanya. Tidak terkecuali apakah partai itu dikendalikan oleh orang yang bergelar kiyai atau bukan, apakah partai itu mengklaim diri memperjuangkan syariat agama tertentu atau tidak, umunya telah terjerembab dalam arus demoralisasi wacana publik, de-ideologisasi dan pragmatisme politik machiavelis (tujuan menghalalkan segala cara), dan dengan demikian peranan partai semakin jelas menjadi ujung tombak pelembagaan KKN di negri ini.

Lalu apa yang bisa di harapkan dari legislatif produk sistem yang korup ini ? Jika tidak ada perubahan sistem mendasar yang bisa men-setup partai sebagai ujung tombak institusionalisasi politik yang berperadaban dan profesional, dan sebagai filter pertama pemberantasan korupsi, maka nasib reformasi dan kemaslahatan rakyat pun akan tetap terseok-seok, merangkak dan merayap dibawah pergumulan politik kepentingan kekuasaan semata. Implikasinya rakyat semakin skeptis, apatis, pesimis bahkan menjadi masyarakat pragmatis (pragmatig society), dimana rakyat pragmatis akan menghasilkan pemimpin-pemimpin pragmatis pula.

Selain perbaikan sistem dan mekanisme, agenda yang sangat mendesak adalah perlunya langkah purifikasi di setiap internal partai politik dalam rangka mengurangi resiko epidemiolgi virus machiavelisme yang memang sudah mulai tumbuh dan berkembang. Nah ini mungkin menjadi pekerjaan berat, karena ada rumus “tidak ada orang yang dengan ikhlas melepaskan kekuasaan yang sudah digenggam”. Termasuk partai sebagai miniatur kekuasaan negara. Namun tuntutan furifikasi itu juga adalah hukum alam, yang selain alam sendiri akan menyelesaikannya dituntut kepedulian kita yang masih percaya kepada hukum alam untuk bertasbih dan tetap mengumandangkan azan perubahan. Furifikasi adalah sebuah keniscayaan.

Sabtu, 12 April 2008

Supersemar yang supersamar

Sejak hilangnya naskah asli supersemar di musium nasional menjelang akhir kekuasaan Suharto, kontroversi seputar keautentikan naskah supersemar itu mencuat di permukaan. Menurut saya, ada yang lebih penting untuk diragukan dan dipelajari dari supersemar itu selain dari teksnya, yakni proses keluarnya Supersemar itu sendiri. Apakah proses keluarnya berasal dari kesadaran dan kehendak ikhlas dari Soekarno ? atau berasal dari pressure atau tekanan dari pihak tertentu yang mendesakkan keluarnya Supersemar itu ? Apakah barang itu dibuat oleh sukarno ? atau dia sudah merupakan barang jadi yang kemudian sukarno tinggal menekennya ? Hal ini penting. Karena kalo kita mau mengungkap sejarah, kita tidak hanya melihat dalam konteks tekstualnya, tapi harus melihat kontekstualnya.

Mungkin karena berawal dengan surat sakti, maka kekuasaan yang di pegangnya pun kemudian dibuat menjadi sakti. Adapun Pancasila sakti yang setiap tahun diperingati kesaktiannya, selalu dijadikan alat justifikasi kesaktian penguasa. Siapa yang berlawanan arah dengan penguasa. berarti mengganggu kesaktian pancasila, sehingga harus dihabiskan dana trilyunan untuk mensosialisasikan, menginternalisasi dan mengkristalisasikan pancasila pada diri anak bangsa. Tapi saya rasa itu adalah perbuatan yang sia-sia yang justru banyak menelan korban, atas nama “kesaktian”.

Di Negara “supersemar” ini segalanya kemudian bisa di samarkan dan bisa di saktikan. Sangat wajar jika hingga saat ini banyak lahir UU atau peraturan yang bersipat karet (interpretable). Biar bunyinya kelihatan demokratis, namun interpretasinya bisa di stel berdasarkan kepentingan siapa yang lagi menyetir dan mendominasi kekuasaan.
Olehnya itu, jangan lagi ada supersemar-supersemar baru yang lahir। Kerena membuat segalanya akan menjadi supersamar, dimana dalam realitasnya masyarakat selalu berada pada posisi kalah di depan hukum.

Minggu, 24 Februari 2008

Tantangan Globalisasi

Globalisasi beserta segenap masalah yang menyertainya, siap atau tidak kita menerimanya, ia telah datang. Keadilan dan kesenjangan multi dimensi, itulah masalah dan tantangan utama peradaban kita saat ini, sakaligus bisa menjadi common platform. Dan tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Hanya tawaran sistem yang universallah (baca:bukan parsial) yang bisa menjawab tantangan globalisasi itu. Pertanyaan yang kemudian yang harus di jawab adalah mana konsep implemantasi yang jelas dan terukur dari sistem yang universal itu yang bisa menjawab permasalahan keadilan dan kesenjangan sosial ?

Untuk menjawabnya secara obyektif, mari kita membedah semua kitab dan referensi yang ada di dunia ini. Mari kita mulai tentang hal yang urgent yakni tentang "keadilan material". Di kitab manakah kita bisa temukan konsep keadilan material yang terukur ? Sebab jika kita berbicara tentang keadilan material, tentu itu bisa di nyatakan secara matematis. Setelah bisa di nyatakan dengan matematis, maka sangat diyakini oleh semua orang bisa menciptakan rasa keadilan (irdan)

Islam Parsial


Islam bisa tampil sangat fundamentalis, kalo kita mengumpulkan dan menerjemahkan ayat-ayat Quran secara fundamental. Islam bisa tampil sangat liberalis kalo kita mengumpulkan dan menerjemahkan ayat-ayat Quran secara liberal. Dengan perlakuan yang sejenis, islam bisa tampil sangat sosialis, bahkan islam bisa tampil sangat mekanistik, dan sebagainya. Sebagai implikasinya maka muncullah label-lebel islam seperti islam fundamentalis, islam liberal, islam kiri, islam pancasila, islam kejawen dan sebagainya.

Namun islam yang diserukan khusus kepada orang-orang yang beriman dalam quran surat Al-Baqarah 208 adalah islam yang universal dan sitemik (kaffah). Itulah islam yang sesungguhnya, yang tidak dipahami secara parsial. Ayat ini turun jauh sebelum manusia berfikir tentang pluralisme, multikulturalisme, interkulturalisme dan berbagai konsep sosio-kultural yang berupaya ingin menjadikan dirinya sebagai common denomination atau simbol permersatu ummat manusia, meskipun isme-isme yang disebutkan itu masih saja bersifat parsial dalam menyelesaikan problematika kemanusiaan.

Jumat, 15 Februari 2008

Angka Kebencian Terhadap Islam

Hegemoni politik kapitalisme, yang menjadi policy dunia dengan tema besar “globalisasi” telah menjadi kekuatan pendikte arus informasi dan demoralisasi wacana dunia. Dengan begitu sang “adikuasa” tampil gagah perkasa mendominasi kebenaran. Media yang semestinya tampil sebagai kekuatan penyeimbang yang obyektiv, juga harus tunduk dibawah kekuatan modal yang besar untuk tetap survive. Maka mediapun tak ubahnya menjadi institusi yang hanya sekedar memenuhi kebutuhan perut industrialisasi yang tak pernah kenyang. Sadar atau tidak, secara sistemik media dunia telah terseret kedalam aksi diskriminasi dalam pemberitaan.

Diskriminasi, itulah musuh kemanusiaan. Namun ada yang lebih kejam dari diskriminasi yakni menuduh “diskriminasi dengan cara-cara diskriminatif”. Itulah mega diskriminasi. Ini satu serial dengan “menuduh terorisme dengan cara-cara terorist”.

Betulkah islam itu identik dengan kekerasan dan terorisme ? Sedemikian burukkah wajah islam di dunia ini sehingga harus menimbulkan kebencian dan fobia terhadap ummat islam ? Catatan Hasil Survay di Amerika 2007, masyarakat yang simpati terhadap Islam 43 %, Netral 22 %, dan tidak simpati terhadap islam sebesar 35 %. Memang angka yang simpati kelihatannya lebih besar dari yang tidak simpati. Akan tetapi angka 35% itu adalah angka yang cukup fantastis. Itu bermakna 1 diantara 3 penduduk Amerika, benci kepada islam. (Sumber : Ade Armando, Madina Media Publika). Bahkan di Eropa tumbuh kelompok ultra konservatif yang benci terhadap islam, dengan melakukan tindakan diskriminasi dan kekerasan terhadap muslim di sana.

Menurut anda, Apa yang menyebabkan munculnya kebencin terhadap islam ? Siapa sajakah yang memiliki kontribusi besar terhadap pencitraan islam yang begitu buruknya ? lalu apakah yang harus kita perbuat untuk menampakkan citra islam sebagai ajaran perdaiaman yang rahmatan lil alamin ?

Senin, 28 Januari 2008

Selamat Jalan Soeharto

Inna lillahi wainnalillahi rajiun Pak Harto telah berpulang, Ahad, 27 Januari 2008 Pukul 13.10 Wib. Siapapun yang meninggal, kepada Allah saja di ia kumpulkan (Al-Imran 158). Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati. kemudian hanyalah kepada Kami kamu di kembalikan (Al-Ankabuut 29).

Kita mengagumi dan menyayangi Soeharto dengan segenap jasanya kepada bangsa dan tanah air, dan mendoakannya semoga segenap amal ibadahnya mendapatkan keridhaan Allah, akan tetapi saya menganjak saudaraku se tanah air untuk tidak berlebihan dan tidak larut dalam drama “demoralisasi wacana publik” yang ingin memanfaatkan momentum ini untuk menggugah perasaan rakyat bahwa orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto masih lebih baik dari “reformasi”. Tidak saudaraku ... Sekali lagi tidak, reformasi belum memimpin saat ini, sungguh masih orde baru yang menguasai sentrum-sentrum kekuasaan. Kondisi carut-marut segala aspek kehidupan yang kita rasakan saat ini adalah masih karya orde baru, masih bom waktu yang ditanam orba yang baru meledak saudara. Apakah kita lupa bahwa pilar orba itu adalah ABG (ABRI, Birokrat dan Golkar ?). Nah masih itu yang berkuasa saat ini.

Memang kita akui bahwa “orba itu adalah “sistem”. Akan tetapi selama ABRI, Birokrat, Golkar dan bangsa ini tidak melakukan diskontinu sistem status quo yang telah berurat akar, dan masih tetap mendominasi kebenaran di negri ini, yang akan terjadi adalah segenap komponen bangsa ini secara devenitif akan terbawa arus kembali memberhalakannya seperti dulu, disadari atau tidak.

Selain menyatakan berkabung terhadap meninggalnya Soeharto (Bapak Pembangunan), kita juga harus berkabung terhadap segenap korban kekerasan, penculikan, pembunuhan karakter yang di alami oleh putra-putra terbaik bangsa selama pemerintahan orde baru hingga saat ini.

Kamis, 10 Januari 2008

Islam, Perjuangan Orang Biasa

Para nabi dan rasul umumnya berasal dari kalangan “orang biasa” yang bersahaja dan mengamban missi yang luar biasa yakni mereka hadir untuk menzahirkan “sistem selamat-sejahtra” yang menjamin rasa keadilan, kesejahtraan, dan ketentraman ummat, lahir dan batin. Mereka datang dengan konsep universal yang “rahmatan lill alamin” berhadapan dengan pola pikir dan sikap manusia jahiliah.

Untuk menzahirkan konsep itu, tidak sesederhana apa yang dibayangkan. Tidak sesederhana seperti cerita-cerita dongeng yang hanya mengandalkan kemampuan mistik seorang tokoh semata, lalu dengan aji sim-salabim atau “kun fayakun” saja dapat menciptakan perubahan. Sekali lagi para nabi dan rasul adalah orang biasa yang mencontohkan hidup itu punya tujuan dan untuk mencapai tujuan melalui kerja keras, perjuangan dan pengorbanan dan bukan proses yang instant.

Bahkan untuk mewujudkan cita-citanya, mereka harus berhadapan dengan kekuasaan yang sudah mapan. Apakah itu kekuasaan firaunisme (otoritarian), kekuasaan samirisme (cendikia munafik), dan berbagai turunan dari kedua jenis kekuasaan di atas yang selalu berujung kepada chaos kemanusiaan. Intinya para nabi dan rasul hadir, bukan sekedar memperbaiki akhlak keseharian pribadi manusia, akan tetapi lebih dari itu, dia selalu hadir untuk meluruskan peradaban yang sudah dibelokkan oleh konsep yang didasari oleh nafsu.

Setiap seorang rasul hadir di dunia ini, bertujuan mengembalikan posisi peradaban ke fitrahnya semula setelah didistorsi oleh kaum yang menyimpan dari visi rasul sebelumnya, yaitu menzahirkan “keselamat-kesejahtraan “ sebagai sebuah sistem dalam mengatur peradaban ini.

Mereka bisa meraih dukungan yang luas dari ummat, tentu karena hal yang disampaikan adalah jawaban terhadap kebutuhan dan permasalahan ummat manusia dan bahasa yang disampaikan adalah bahasa kaum (bahasa orang biasa), sehingga sangat mudah dicerna, bukan bahasa “sihir” atau bahasa “mistis” sebagaimana dituduhkan orang-orang kafir terhadap Rasul. Tidak dipungkiri adanya bantuan “langit” dalam mengemban missi wahyu itu, akan tetapi kalo wahyu itu disampaikan dengan bahasa langit, mustahil akan dicerna oleh bumi yang kecil.

Allah SWT. juga telah menyerukan untuk menyampaikan kebenaran dalam bahasa kaum. Itulah mungkin yang menjadi dasar kenapa nabi dan rasul selalu dipilih dari kalangan orang biasa yang bersahaja.

Memang Muhammad SAW adalah rasul terakhir, dan tidak ada lagi rasul di belakangnya. Akan tetapi missi dan risalah kerasulan ini terus berjalan di emban oleh muslim tanpa harus bergelar rasul, karena para rasul telah mencontohkan bahwa mereka berasal dari kalangan orang biasa yang kemudian diberi kemuliaan karena cita-citanya yang luhur dan universal, perjuangan dan pengorbanannya yang ikhlas, bukan hanya untuk kemanusiaan, tapi rahmat bagi seluruh alam.

Sampai akhir saman, masalah dan tantangan peradaban ini tetap sama, yakni pembelokan sejarah peradaban oleh konsep “nafsu” adalah siklus peradaban. Maka perjuangan untuk meluruskan peradaban tetap menjadi kebutuhan dari masa ke masa.

Islam hanya akan menjadi cerita dongeng bahkan bagian dari distorsi sejarah, ketika perspektif  yang mengemuka mewakili identitas islam adalah cerita-cerita mistik para wali yang konon mewarisi mujizat rasul disaat berjuang. Padahal musjizat  bukanlah hak paten seseorang akan tetapi dia adalah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang dinampakkannya pada diri seseorang yang memperjuangkan kebenaran. Mujizat  adalah tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal. Akan tetapi bagi yang irrasional, tentu mujizat itu dimaknai sebagai sebuah ilmu sihir yang bersifat instant. Para Nabi dan Rasul dihadirkan bukan untuk mempelajari tentang ilmu mujizat tapi ilmu tentang perjuangan, adapun kehadiran mujizat itu adalah hak otoritas Allah SWT.

Mujizat itu hendaknya menjadi pelajaran kultural yang bisa dipetik hikmahnya bagi orang-orang yang berakal. Misalnya saja ketika kaum nabi musa mengalami kekurangan air dan kehausan, maka hanya dengan menghempaskan tongkatnya, muncullah mata air di 12 penjuru wilayah dan tiap kaum mengetahui dimana tempat minumnya. Secara kontekstual Ini bermakna bahwa tongkat atau kekuasaan itu fungsinya bukan untuk di genggam, namun harus digerakkan untuk kemaslahatan rakyat secara keseluruhan.

Hanya dengan memaknai perjuangan rasul seperti itu kita bisa memahami bahwa kita orang biasa sama juga seperti nabi dan rasul yang mempunyai missi sebagai pejuang di muka bumi untuk menzahirkan kebenaran, keadilan, keselamatan dan kesejahtraan ummat.

Meskipun ada beberapa keturunan nabi diberi kemuliaan menjadi pewaris, itu bukan karena persoalan darah dan keturunan, akan tetapi karena mereka telah mengalami internalisasi sosial-kemanusiaan untuk menerima kemuliaan sebagai seorang nabi. Di dalam Al-Quran Allah telah memperingati keras kepada keturunan nabi, ahli kitab, dan orang-orang yang merasa berhak atau yang mengklaim memiliki hak paten mewarisi nabi, meski tidak mengalami internalisasi apapun untuk untuk hal itu. Allah SWT. mengatakan “apakah kamu yang menentukan dimana dan kepada siapa nikmat-Ku akan ku turunkan ?”. ( Penulis : Muhammad Irdan AB)

Rabu, 09 Januari 2008

Islam Bukan Agama

Catatan Menjalelang tahun baru Hijriah

Statement “islam bukan agama” bagi kebanyakan orang, tentu dianggap sebagai hal yang kontroversial ditengah mainstream islam secara sosiologis telah melembaga sebagai sebuah “agama”.

Namun sebagai orang yang ingin mencari kebenaran, saya tidak perlu ikut reaktif apalagi mengklaim “aliran sesat “ bagi wacana yang berbeda dengan yang yang saya pahami saat ini. Hal yang paling bijak adalah mebuka ruang dialog sebagai “examination by argument”. Begitu pula terhadap tesis yang sudah jelas menjadi paham kebanyakan orang, tidak serta-merta harus saya telan mentah-mentah sebagai sebuah kebenaran. Hal yang bijaksana adalah menghadirkan anti tesis untuk menguji kebenarannya, tapi bukan dalam kerangka “asal berbeda pendapat”.

Untuk mempermudah proses dialog, pertama yang perlu diklarifikasi adalah pengertian tentang agama. Dari berbagai forum, kitab dan literatur yang pernah saya geluti, agama itu secara ringkas dapat di katakan “apa yang ada di kepala kita”, atau secara gamblang sebagai sebuah ideologi yang mempengaruhi cara pandang, sikap dan prilaku seseorang. Selanjutnya secara operasional agama itu ditandai dengan adanya kitab yang di dalamnya ada konsep hidup. Selain itu agama ditandai dengan adanya persembahan, ada nabi, rasul atau tokoh yang mengejawantahkan kitab itu. Di dalam persembahan ada praktek-praktek spiritual tertentu untuk melakukan komunikasi dengan yang di sembah, yang dikenal dengan istilah sembahyang (Baca : Sembah hyang). Konon di Indonesia sendiri istilah agama itu pertama kali diperkenalkan oleh hindu-budha. Islam kemudian datang dengan adabtasi budaya setempat dan juga disebut sebagai sebuah agama.

Pada perkembangan selanjutnya, ketika berhadapan dengan dunia atau negara, maka agama ternyata bukanlah suatu ajaran yang universal, dia terposisi secara parsial, atau agama itu sebagai sekte di dalam negara atau di dunia. Dia menjadi sub-ordinasi dari sebuah sistem tata-negara dan selanjutnya tata-dunia.

Maka tidak heran jika “negara” menjadi agama baru yang ideologi atau ajarannya diakomodir dari ajaran-ajaran agama yang ada di “dalam” negara itu. Kalo dalam konteks ke-Indonesiaan, agama malah menjadi sebuah departemen yang harus tunduk pada sebuah kitab yang di sebut “Pancasila”.

Lalu bagaimana dengan islam ? berbicara tentang islam berarti referensinya adalah Al-Quran. Di dalam Al-Quran, islam itu disebutkan sebagai din. Juga di sebut silmi. Identikkah din dengan agama ? Apa itu Din ?

Merujuk ke Al-Quran, din atau silmi adalah sistem perdamaian yang universal. Dasarnya adalah QS Al Baqarah ayat 208 “Hai Orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam silmi (pedamaian ; islam) secara keseluruhan (sistemik) dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu ”. Di beberapa tafsir Din dimaknai sebagai konstitusi atau pedoman yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Islam disampaikan oleh bukan cuma satu nabi dan rasul. Islam telah disampaikan oleh seluruh nabi dan rasul dari Nabi Adam hingga rasul terakhir Muhammad SAW. Islam pun tidak membatasi kehadirannya terhadap satu teritorial tertentu, manandakan sifat universalnya.

Dari pengertian bahasa, Islam sendiri berarti “Selamat-sejahtra”, yang artinya sistem yang menjamin keselamatan dan kesejahtraan. Di dalam sejarah, para nabi-nabi dan rasul hadir membrangus ide dari sekte-sekte atau agama-agama parsial yang telah melakukan “human culdesac” (kekacauan kemanusiaan) dengan menawarkan suatu sistem perdamaian yang universal yang disebut “sistem selamat sejahtra” yang bahasa Indonesianya disebut Islam.

Seteleh melakukan eksplorasi tentang agama dan islam itu sendiri, akhirnya sayapun berkesimpulan bahwa islam bukan “agama”, dan tidak layak dia di bawahi oleh Departemen Agama Republik Indonesia. Islam adalah perjuangan. Perjuangan untuk menzahirkan sebuah tatanan atau sistem yang menjamin keselamatan dan kesejahtraan ummat manusia secara keseluruhan. Bukan cuma sekedar simbol.